Sepakat tidak Sepakat, Perubahan iklim telah kita rasakan
Posted on 04. Apr, 2011 by Goris Mustaqim in Indonesia
Konferensi Perubahan Iklim memasuki babak baru setelah pertemuan COP 16 di Cancun Mexico, akhir tahun 2010 kemarin. Kekecewaan terhadap negosiasi di COP 15 di Kopenhagen, sedikit terobati dengan adanya itikad baik yang muncul di Cancun, dengan ratifikasi di salah satu artikel, serta keinginan duduk kembali dalam meja perundingan dari para delegasi negara berpengaruh.
Harus diakui perundingan berjalan lambat, sementara dampak dari perubahan iklim sudah sangat terasa oleh semua manusia. Sejak dimulai di Rio pada 1992, kemudian menghasilkan Protokol Kyoto (PK) yang merupakan satu-satunya kesepakatan ‘mengikat’, publik gusar dengan belum adanya kesepakatan mengikat yang akan menggantikan PK yang akan berakhir pada 2012.
Kini, di tengah bencana banjir bandang yang melanda Thailand, pertamuan sela (Intersessional) kembali digelar di Bangkok untuk merumuskan agenda prioritas yang akan disepakati di Durban, Afrika Selatan pada akhir 2011. Layakkah kita berharap pertemuan ini menghasilkan kemajuan sementara bencana perubahan iklim terus mengintai? Tentunya tidak ada satupun pihak yang tidak sepakat bahwa upaya penyelamatan perlu segera dilakukan. Masing-masing negara pun telah memiliki target serta roadmap untuk menurunkan emisi karbon masing-masing, tapi apakah itu cukup? Kita terus berburu dengan waktu. Banjir di Thailand di tengah pertemuan ini seakan menjadi pertanda, alam tidak akan menunggu lebih lama menuju kehancuran.
Perubahan iklim merupakan gejala global, bukan lokal, oleh karena memerlukan tindakan global (Global Action), yang kita butuhkan adalah kebijakan bersama yang mampu mengontrol kenaikan temperatur bumi di bawah 2 derajat celcius, karena jika itu terjadi akan menyebabkan kenaikan permukaan air laut yang membahayakan kehidupan manusia. Bahaya ini akan lebih terasa bagi kita di Indonesia, -negara kepulauan-, sebagaimana laporan yang dirilis oleh UN-HABITAT beberapa waktu lalu.
Itu juga belum cukup, dibutuhkan peran kita bersama, terutama generasi muda untuk merubah pola hidup menjadi pola yang ramah lingkungan. Tindakan-tindakan kecil yang dijalankan secara berkelanjutan lebih berarti dibanding sekedar hujatan dan keluhan. Tak ada gunanya skeptis berpikir bahwa apapun yang dilakukan, hal itu sudah terlambat. Lebih baik tetap berharap dengan melakukan tindakan nyata. Karena tanpa harapan tidak ada kehidupan.
-
Al_liah2003
Negotiator Tracker - Goris Mustaqim
Goris Mustaqim, atau biasa dipanggil Goris adalah seorang wirausahawan dan wirausahawan sosial dari Indonesia. Dia sekarang sedang berada di Bangkok bergabung dengan anak muda lain untuk menjadi negosiator serta menyebarkan hasil dari KTT perubahan iklim ini ke jutaan anak muda lain.
Read more of Goris's posts here.
Follow Goris on twitter @GorisMustaqim
